Pak Angin yang Menyebrangkan Anak Balon

Dengan saputangan merah jambu di telapak tangan kanannya, Adin mengusap butiran keringat di wajah lelahnya yang tampak memerah. Mobil Adin yang tidak ber-AC, membuat siang yang sudah sepanas mie instan terasa makin panas. Parahnya, jalanan macet minta ampun. Mobil-mobil hanya maju sedikit-sedikit. Sementara, orang-orang yang duduk di dalam mobil sudah terlihat kusut semua. Adin mengumpamakan wajah mereka seperti kusutnya jemuran mamimyang belum sempat disetrika.

“Panas, ya, Sayang?” tanya mamim sambil merapikan poni lepek Adin.

Adin hanya mengangguk lemas.

“Pengin esm nggak?” tanya mamim.

Kali ini, Adin mengangguk lagi dengan pasrah.

“Mamim juga pengin. Kalau ada tukang es lewat, kita panggil saja, yuk?” ajak mamim.

Dengan penuh harap, Adin meneliti setiap sisi jalan, kalau-kalau ada tukang es nongkrong. Semoga tukang es itu punya es susu … mmm … atau barangkali es krim coklat juga boleh. Kalau mamim, dia pasti beli es jeruk. Mana, ya? Kok, yang ada malah tukang baso, she? Di situ juga ada tukang rokokm tukang tambal ban, tukang minta-minta, dan tukang-tukang yang lain.

Tiba-tiba, mata Adin berhenti menjelajahi jalanan di sekeliling mobilnya yang terjebak macet. Di jalur sebelah, terlihat mobil-mobil melaju bebas dan kencang tanpa halangan apa pun. Adin seketika melihat sebuah balon oranye sedang menyebrang jalan. Dengan gagahnya, ia menerobos barisan kendaraan yang sudah bosan menanti bubarnya antrean. Permasalahannya Cuma satu, mobil-mobil dari atah berlawanan, melaju dengan amat cepatnya, dan tak melihat sang balon sedang berjalan-jalan.

Adin jadi merinding sendiri melihatnya. Bagaimana kalau balon itu tertabrak, lalu meledak? Balon, kan, lemah sekali. Terkena kuku sedikit saja bias DOR! Sepertinya, balon itu masih anak-anak. Harusnya, ia tidak boleh menyebrang sendiri. Kata mamim, anak-anak harus dituntun orang dewasa kalau mau menyeberang jalan. Sebentar lagi, pasti bakal ada kecelakaan lalu lintas, deh …. Balon oranye itu akan mengalami kecelakaan !

Adin menyembulkan kepalanya ke luar jendela supaya dapat melihat balon oranye dengan lebih jelas.

“Adin, kelapanya jangan ke luar-luar gitu!” kata mamim mengingatkan.

Mendengar terugran mamim, Adin segera memasukkan kepalanya kembali ke bawah atap mobil. Akan tetapi, dia tidak melepaskan pandangannya dari si balon oranye.

“Lihat apa, Din ? Tukan esnya ada?” tanya mamim.

Adin menggeleng. “Mim, Adin takut balon itu ditabrak mobil,” kata Adin sambil menunjuk balon oranye yang masih melayang-layang tidak jelas di tengah jalan.

Mamim mengikuti arah telunjuk Adin.

“Kata Mamim, anak-anak harus menyeberang dengan orang besar, kan? Balon itu nakal sekali. Harusnya, ia menyeberang dengan balon yang sudah besar atau benda apa pun yang lebih besar darinya,” lanjut Adin.

Mamim tersenyum. “Balon itu ada yang jaga, kok, Din,”

Kata mamim sambil melepas kopling. “Lihat, deh, dari tadi balon itu baik-baik saja, kan? Setiap ada mobil, ia pasti melompat. Sebentar lagi, ia pasti sampai di seberang dengan selamat,” kata mamim yakin.

“Dari tadi, balonnya sendirian, kok, nggak dijaga siapa-siapa,” protes Adin.

“Penjaganya nggak kelihatan, Din, Namanya Pak Angin. Setiap ada kendaraan lewat … HOOOPLA …  angin akan mengangkat si balon tinggi-tinggi supaya tidak tertabrak. Angin itu seperti polisi, Din. Ia membantu menyeberangkan anak balon, anak kresek plastik, dan anak laying-layang,” terang mamim.

Adin memrhatikan si balon yang masih melayang-layang. Akhirnya, balon itu pun tiba di seberang jalan dengan selamat.

“Iya, Mim, balonnya selamat!” sorak Adin.

“Betul, kan?” mamim ikut memandangi balon oranye yang sekarang sedang melompat-lompat girang di trotoar. Pasti ia sedang mengucapkan rasa terima kasihnya pada Pak Angin.

“Din, tukang esnya masih belum kelihatan juga, ya?” tanya mamim.

Adin mengeleng kuat-kuat. Pertanyaan mamim segera mengingatkan Adin pada rasa haus yang dari tadi mengelitiki kerongkongannya.

“Ya, sudah. Buka jendelanya lebar-lebar, supaya Pak Angin bias masuk dan menghibur kita,” suruh mamim.

Adin membuka jendela mobil lebar-lebar. Benar saja, Pak Angin lantas terbang masuk ke dalam mobil. Kebaikan hatinya memenuhi seluruh isi mobil yang tadinya pengap, membuat haus Adin hilang sedikit, dan menjadikannya gembira seperti balon oranye tadi.

Dengan penuh kasih saying, Pak Angin meniupi poni lepek Adin sampai kering. Ia juga menyapa wajah mamim yang tadinya panas dan berkeringat menjadi segar kembali. Begitu pula Adin. Setelah Pak Angin berhenti bermain rambut, Adin dan mamin bernyanyi-nyanyi gembira, “Macet lagi, macet lagi … gara-gara si Komo lewat …. “ Inilah lagu yang selalu dinyanyikan mamim kalau lalu lintas tiba-tiba macet.

Lalu, terlintas dalam pikiran Adin, Sebetulnya Pak Angin punya anak, tidak, ya? Ia, kan, sering menolong anak-anak. Tapi, bagaimana dengan anaknya sendiri?

Tiba-tiba, angin sepoi-sepoi menyentuh wajah Adin. Tiupannya begitu lembut, lebih lembut dibandingkan embusan Pak Anfin sebelumnya.

“Anak Angin, kamukan itu?” tanya Adin.

Sekal lagi, angin sepoi-sepoi itu menerpa muka Adin dengan ramah.

“Iya, Pak Angin punya anak!” sorak Adin.

Siang itu, Adin berkenalan dengan Angin Kecil yang sebaya dengannya.

 

ni Adalah Potongan dari Dongeng dan Cerita Anak “Dunia Adin”

Daftar Pustaka : Sundea. 2007. Dunia Adin. Bandung: Read! Publishing House (Kelompok Mizan)

baca juga Part 1 ; Part 2

2 Comments

Filed under Dunia Adin, Dunia Adin Part 3, Novel

2 responses to “Pak Angin yang Menyebrangkan Anak Balon

  1. Pingback: Gadis Kecil Itu Bernama Adin | Bacalah

  2. Pingback: Keluarga Besar yang Tinggal di Seberang Rumah Adin | Bacalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s